Oleh: Sopliadi
Sadar
atau tidak, segala simbolisme Budaya Pop
sangat
berpengaruh terhadap eksistensi dan autentisitas kebudayaan lokal. Di sini, implikasinya akan terlihat ketika budaya lokal didominasi oleh
budaya kontemporer. Apalagi di Indonesia, negara yang sedang
mencoba duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa luar. Apapun itu yang bersifat baru datang ke-Indonesia ditelan
bulat-bulat tanpa peduli dengan makna yang terkandung di dalamnya.
Dinamika kehidupan semacam itu akan
mengesampingkan budaya tradisional yang ada, yang
notabene merupakan
warisan nenek moyang yang wajib dijaga serta dirawat oleh segenap masyarakat tanah air. Terutama bagi
regenerasi muda, yang merupakan aset berharga
sekaligus calon pemimpin
bangsa. Yang akan menjadi perintis jalan
kebenaran untuk kemaslahatan umat. Supaya budaya peninggalan para leluhur
dahulu dapat dipertahankan dari kebinasaan.
Namun
apa mau dikata, realitas berbicara lain. Bukannya menjunjung tinggi nilai-nilai
tradisi yang ada, tapi malah terjebak dalam
kubang budaya populer. Dengan
segala ingar-bingar kemewahan. Ironisnya lagi, sudah menjadi “gaya hidup” anak muda zaman sekarang. Hal yang paling mendasarinya
adalah; busana, gaya rambut, cara bicara dan makanan, yang beraromakan pop.
Tanpa disadari secara perlahan diadopsi oleh kehidupan Indonesia itu sendiri.
Sungguh memprihatinkan lagi,
munculnya budaya pop juga kian diadopsi oleh sebagian mahasiswa. Yang katanya
agen perubahan (agen of change). Tak
pelak, gaya hidupnya pun ikut pada irama gerakan modern. Kampus tak lagi
menjadi tempat mengais pengetahuan, tapi kian menjelma ajang show layaknya mal.
Dan menjadi tempat pameran kemewahan yang diimpor oleh produk luar.
Budaya
Pop merupakan gaya hidup trend kontemporer. Selain menarik, juga karena memiliki daya pikat yang lebih tinggi. Dan banyak disukai
oleh sebagian golongan.
Apalagi dalam budaya kawula muda khususnya.
Seiring waktu berjalan, ragam produknya mulai berkembang di
Indonesia. Tidak hanya di pusat, bahkan sudah
merembes hingga pelosok.
Mulai dar busana, baik itu baju, celana, kemudian dipermak seindah mungkin
layaknya fashion budaya pop.
Masuknya Budaya Pop juga tidak
lepas dari peran media, karena merupakan salah satu instrumen penghubung hingga menjamurnya mode populer di
Indonesia. Baik via televisi, majalah remaja, VCD player dan lain sebagainya. Dan ini
semua tidak lepas dari intervensi pemilik
modal yang
sengaja memanfaatkan kesempatan yang terbuka demi meraup keuntungan yang lebih besar.
Budaya
Populer sengaja didesain seindah mungkin agar generasi muda tergiur serta
dapat
merangsang rasa ingin memiliki atas produk yang mereka tawarkan. Akhirnya, anak-anak muda lebih memilih kepada nilai simbolik dengan segala pernak-pernik yang ada, bukan lagi pada nilai
substansial dari barang tersebut.
Sebagian
ada yang mengatakan Budaya Pop lebih identik dengan ke- Indonesiaan, tetapi pemikiran
mereka lebih cenderung Holliwood. Inilah yang
membedakan dengan kebudayaan Indonesia. Di Indonesia
sendiri gaya hidup pop juga dibilang “lebay” dan terlalu berlebihan dan
sangat dipuja. Sampai rela-relain beli alat aksesoris yang mahal demi mengikuti
trendnya mode pop yang lagi membooming istilah
anak muda sekarang. Sehingga muncul dengan istilah I-pop (Indonesia pop).
Kehadiran Budaya Pop ke-Indonesia pengaruhnya sangat besar,
dan dapat memberi ancaman atas eksistensi kebudayaan sendiri. Apalagi kurangnya pemahaman serta pikiran terhadap
nilai-nilai tradisional yang ada. Secara finansial,
juga menguntungkan negara luar, dan meningkatkan produk-produk mereka seperti produksi akses komunikasi; HP Samsung, galaxy tech, yang signifikan.
Budaya
Pop juga menjadi medium komunikasi simbolik. Supaya
tidak terjebak dalam pandangan konvensional, budaya tradisional dianggap kuno
atau ketinggalan zaman dan tidak menarik. Kebudayaan dan masyarakat merupakan
dua bentuk yang tidak dapat dipisahkan. Begitu juga kebudayaan dalam sebuah
masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan komunikasi. Komunikasi penting bagi
inovasi budaya dan budaya penting untuk kelangsungan hidup manusia. Melalui
komunikasi kita membangun budaya, ketika berkomunikasi
dengan yang lain.
Budaya
juga perlu dipahami secara dinamis. Yakni serangkaian ide, reaksi, yang berubah
secara spontan dengan orang atau dengan kelompok itu sendiri. Budaya juga
sebagai medium untuk menghubung antara individu pribadi dan komunitas kecil
dengan kelompok yang lebih besar melalui nilai dan pemahaman itu sendiri.
Esensi dari budaya merupakan pola perilaku masyarakat yang tertanam dalam
bentuk simbolik. Di dalamnya terdapat tindakan maupun pola perilaku dalam
tatanan kehidupan sosial.
Inilah yang
menjadi tanggung jawab kita semua untuk ke depan sebagai bangsa yang memiliki
kebudayaan sendiri. Dan menjadi tantangan bagi para intelektual
muda agar tidak terperangkap ke dalam kubangan Budaya Pop. Agar budaya dan tradisi yang ada dalam masyarakat Indonesia
tidak kehilangan eksistensinya. Sebagai Bangsa yang dinamis tidak serta merta
menolak begitu saja dengan hal-hal baru, karena itu adalah bagian dari
kemajuan. Namun, semangat kemajuan juga wajib disingkronkan dengan budaya tradisional agar tetap bisa bertahan di tengah kepopuleran budaya pop.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar