27 Desember 2013

Cinta itu Pelik

oleh Sopliadi

Cinta memang mudah untuk diucapkan, namun susah untuk memaknainya. Dalam rentang yang cukup lama dia bersemayam di relung hati dengan segala gundah gulana. Kekinian telah menuntut pribadi seseorang harus tunduk dengan tuntutan sosok yang dicintainya. Begitu juga halnya dengan penyampaian kata-kata, tak ada kemurnian. Selalu dibingkai dan dipermak semaksimal mungkin agar terkesan orisinal terhadap penerimanya. Gombal-gombalan menjadi kunci pamungkas yang dianggap senjata apik untuk meluluhkan hati pasangan. Segala cara bervariasi digunakan untuk menunjukkan keseriusan saat hubungan asmara berjalan. Begitulah adanya, cinta adalah panggung sandiwara dan kita sebagai aktor harus tunduk pada pembuat skenario.
Bohong dan benar tidak lagi bisa dibedakan, karena sudah menjadi satu dalam arti yang sama. Dalam kebohongan terkadang ada kebenaran dan dalam kebenaran ditemukan kebohongan. Apalagi menjalani hubungan kejauhan antar dua insan, kata-kata menjadi instrumen untuk meligitimasi kebingungan pasangan supaya benar-benar meyakinkan perasaan si-dia agar asmara tetap terjalin dan semakin memperkokoh posisi seseorang dalam menunjukkan kesetiaan. Pemberi harapan paslu (PHP) begitulah istilah mereka. Setia di era kekinian adalah modal utama untuk menggaetkan kaum hawa layaknya magnetis pemikat perhatian. Di jejaring sosial media kerap kita temukan sastrawan gadungan yang menggelembungkan citra dengan semboyan puitis “Cowok Setia” dengan rangkaian indah untuk mencuri perhatian para gadis.
Kesetiaan menjadi komoditas di pasar cinta dan menjadi akses seseorang untuk menuju singgasana “kebahagiaan”. Makna cinta menjadi absur ketika jatuh ke tangan yang salah, apalagi cinta kekinian  menjadi mediator bagi kedua insan untuk melakukan hubungan intim layaknya suami-istri yang sah. Bahkan fenomena semacam ini sudah tumbuh seperti jamur di musim hujan, parahnya lagi tidak hanya di kalangan dewasa tapi sudah merambah ke kalangan remaja akibat dari kurangnya kontrol orang tua. Ini hanyalah sekelumit persoalan dari sekian banyak masalah yang ada. Tapi itu patut kita waspadai dan menjadi tugas kita semua sebagai mahkluk yang mencintai satu dengan lainnya.
Peliknya perjalanan cinta membuat hubungan seseorang harus berhenti di persimpangan, berbagai alasan hipotesis kian bermunculan; pacaran kejauhan itu sulit, tidak ada kecocokan, tak dapat restu dari orang tua dan paling kerap menimpa yang berujung retak adalah hadirnya orang ketiga karena dianggap benalu perusak hubungan. Pernyataan seperti itu sering dijumpai di sekitar kita, bahkan kita sendiri tanpa disadari telah menjadi korban atas akibat salah mencintai. Namun lagi-lagi selalu cinta yang disalahkan. Manusia selalu benar, dan cinta selalu di pihak yang salah. Namun pernyataan itu akan menjadi lemah ketika ada yang putus cinta disebabkan oleh mahalnya ongkos. Sehingga pernyataan “cinta berat diongkos” menjadi kendala dan dianggap pembawa sial yang berakhir bumerang.
Bukan cinta yang salah tapi kita sudah salah mencintai, saya lebih sepakat dengan pernytaan ini, apabila ditelisik lebih jauh bukanlah salahnya cinta tapi memang terkadang kita sudah keliru dalam memaknakan cinta sesungguhnya. Ketika kita sendirian alias jomblo kata cinta tak akan berarti apa-apa, karena kata “cinta” bermakna terhadap orang yang memiliki pasangan. Tapi bukan berarti jomblowan tidak memiliki perasaan mencintai bukan juga tidak normal atau alergi dengan perempuan, namun ada alasan tersendiri terhadap memilih sendirian. Cinta adalah kata-kata yang tidak satupun orang yang bisa memaknainya apalagi menggambarkannya. Karena dia bersifat abstraks, tak bisa dilihat oleh indera tapi dapat dirasakan oleh hati, dan cinta bersemayam di lubuk hati yang paling dalam. Ini membuktikan kalau cinta itu tak kasat mata, perlu ada pemahaman yang luas dalam memberikan definisi terhadap cinta. Cinta tak perlu didefinisikan karena dia tak mampu diutarakan oleh ribuan kata-kata.
Cinta akan menjadi indah dan bermartabat jika jatuh ke tangan orang yang benar, namun dia akan bermakna kabur andaikata nangkring dalam tubuh yang salah. Dangkalnya pemahaman tentang cinta membuat seseorang inkosisten dalam menjalani sebuah hubungan, yang berbuah keretakkan dan perpecahan. Dalam percintaan, perempuan selalu menjadi objek sasaran para laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Perempuan selalu identik dengan barang tukar tambah layaknya barang bekas. Bahkan ada perempuan isi ulang, inilah kekeliruan terhadap interpretasi terhadap sosok perempuan yang dicintai. Bentuk dari warisan budaya patriarki yang sudah menjamur dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Stigma negatif terhadap perempuan sudah kian kuat buah dari kontruksi sosial yang dianggap mempersempit ruang bagi kaun hawa untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya sebagai ciptaan Tuhan.
Perempuan dan laki-laki adalah subyek dalam cinta, stigma yang berkembang dengan lantang mengatakan wanita adalah objek sangat sebuah kekeliruan dalam memahami apa itu cinta. Laki-laki mencintai seorang perempuan sudah wajar sebagai mahkluk normalitas ciptaan Tuhan, perempuan mencintai laki-laki juga sudah lumrah terjadi karena sama-sama memiliki perasaan mencintai. Tapi kebanyakan dikhalayak laki-laki menjadi pemecah rekor yang mencintai perempuan lebih dahulu. Karena pria mudah mencintai dan gampang meninggalkan, tapi perempuan lebih berhati-hati dalam memilih dan memilah mana pasangan yang dianggap cocok dan mampu menjadi imam baginya. Wanita terkesan hati-hati dan selalu mempertimbangkan dalam segala hal, tapi perempuan juga dianggap lemah dan gampang putus asa sebagai kodrat Ilahi yang harus diterima.




Tidak ada komentar: