oleh Sopliadi
Cinta
memang mudah untuk diucapkan, namun susah untuk memaknainya. Dalam rentang yang
cukup lama dia bersemayam di relung hati dengan segala gundah gulana. Kekinian
telah menuntut pribadi seseorang harus tunduk dengan tuntutan sosok yang
dicintainya. Begitu juga halnya dengan penyampaian kata-kata, tak ada
kemurnian. Selalu dibingkai dan dipermak semaksimal mungkin agar terkesan
orisinal terhadap penerimanya. Gombal-gombalan menjadi kunci pamungkas yang
dianggap senjata apik untuk meluluhkan hati pasangan. Segala cara bervariasi
digunakan untuk menunjukkan keseriusan saat hubungan asmara berjalan. Begitulah
adanya, cinta adalah panggung sandiwara dan kita sebagai aktor harus tunduk
pada pembuat skenario.
Bohong
dan benar tidak lagi bisa dibedakan, karena sudah menjadi satu dalam arti yang sama.
Dalam kebohongan terkadang ada kebenaran dan dalam kebenaran ditemukan
kebohongan. Apalagi menjalani hubungan kejauhan antar dua insan, kata-kata
menjadi instrumen untuk meligitimasi kebingungan pasangan supaya benar-benar
meyakinkan perasaan si-dia agar asmara tetap terjalin dan semakin memperkokoh
posisi seseorang dalam menunjukkan kesetiaan. Pemberi harapan paslu (PHP)
begitulah istilah mereka. Setia di era kekinian adalah modal utama untuk
menggaetkan kaum hawa layaknya magnetis pemikat perhatian. Di jejaring sosial
media kerap kita temukan sastrawan gadungan yang menggelembungkan citra dengan
semboyan puitis “Cowok Setia” dengan rangkaian indah untuk mencuri perhatian
para gadis.
Kesetiaan
menjadi komoditas di pasar cinta dan menjadi akses seseorang untuk menuju
singgasana “kebahagiaan”. Makna cinta menjadi absur ketika jatuh ke tangan yang
salah, apalagi cinta kekinian menjadi
mediator bagi kedua insan untuk melakukan hubungan intim layaknya suami-istri
yang sah. Bahkan fenomena semacam ini sudah tumbuh seperti jamur di musim
hujan, parahnya lagi tidak hanya di kalangan dewasa tapi sudah merambah ke
kalangan remaja akibat dari kurangnya kontrol orang tua. Ini hanyalah sekelumit
persoalan dari sekian banyak masalah yang ada. Tapi itu patut kita waspadai dan
menjadi tugas kita semua sebagai mahkluk yang mencintai satu dengan lainnya.
Peliknya
perjalanan cinta membuat hubungan seseorang harus berhenti di persimpangan,
berbagai alasan hipotesis kian bermunculan; pacaran kejauhan itu sulit, tidak
ada kecocokan, tak dapat restu dari orang tua dan paling kerap menimpa yang
berujung retak adalah hadirnya orang ketiga karena dianggap benalu perusak
hubungan. Pernyataan seperti itu sering dijumpai di sekitar kita, bahkan kita
sendiri tanpa disadari telah menjadi korban atas akibat salah mencintai. Namun
lagi-lagi selalu cinta yang disalahkan. Manusia selalu benar, dan cinta selalu
di pihak yang salah. Namun pernyataan itu akan menjadi lemah ketika ada yang
putus cinta disebabkan oleh mahalnya ongkos. Sehingga pernyataan “cinta berat
diongkos” menjadi kendala dan dianggap pembawa sial yang berakhir bumerang.
Bukan
cinta yang salah tapi kita sudah salah mencintai, saya lebih sepakat dengan
pernytaan ini, apabila ditelisik lebih jauh bukanlah salahnya cinta tapi memang
terkadang kita sudah keliru dalam memaknakan cinta sesungguhnya. Ketika kita
sendirian alias jomblo kata cinta tak akan berarti apa-apa, karena kata “cinta”
bermakna terhadap orang yang memiliki pasangan. Tapi bukan berarti jomblowan
tidak memiliki perasaan mencintai bukan juga tidak normal atau alergi dengan
perempuan, namun ada alasan tersendiri terhadap memilih sendirian. Cinta adalah
kata-kata yang tidak satupun orang yang bisa memaknainya apalagi
menggambarkannya. Karena dia bersifat abstraks, tak bisa dilihat oleh indera
tapi dapat dirasakan oleh hati, dan cinta bersemayam di lubuk hati yang paling
dalam. Ini membuktikan kalau cinta itu tak kasat mata, perlu ada pemahaman yang
luas dalam memberikan definisi terhadap cinta. Cinta tak perlu didefinisikan
karena dia tak mampu diutarakan oleh ribuan kata-kata.
Cinta
akan menjadi indah dan bermartabat jika jatuh ke tangan orang yang benar, namun
dia akan bermakna kabur andaikata nangkring dalam tubuh yang salah. Dangkalnya
pemahaman tentang cinta membuat seseorang inkosisten dalam menjalani sebuah
hubungan, yang berbuah keretakkan dan perpecahan. Dalam percintaan, perempuan
selalu menjadi objek sasaran para laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
Perempuan selalu identik dengan barang tukar tambah layaknya barang bekas.
Bahkan ada perempuan isi ulang, inilah kekeliruan terhadap interpretasi
terhadap sosok perempuan yang dicintai. Bentuk dari warisan budaya patriarki
yang sudah menjamur dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Stigma negatif
terhadap perempuan sudah kian kuat buah dari kontruksi sosial yang dianggap
mempersempit ruang bagi kaun hawa untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya
sebagai ciptaan Tuhan.
Perempuan
dan laki-laki adalah subyek dalam cinta, stigma yang berkembang dengan lantang
mengatakan wanita adalah objek sangat sebuah kekeliruan dalam memahami apa itu
cinta. Laki-laki mencintai seorang perempuan sudah wajar sebagai mahkluk
normalitas ciptaan Tuhan, perempuan mencintai laki-laki juga sudah lumrah
terjadi karena sama-sama memiliki perasaan mencintai. Tapi kebanyakan
dikhalayak laki-laki menjadi pemecah rekor yang mencintai perempuan lebih
dahulu. Karena pria mudah mencintai dan gampang meninggalkan, tapi perempuan
lebih berhati-hati dalam memilih dan memilah mana pasangan yang dianggap cocok
dan mampu menjadi imam baginya. Wanita terkesan hati-hati dan selalu
mempertimbangkan dalam segala hal, tapi perempuan juga dianggap lemah dan
gampang putus asa sebagai kodrat Ilahi yang harus diterima.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar