26 April 2014

Selamat Datang Pangeran

Oleh: Sopliadi

Welcome, mungkin itulah sepenggal kata untuk menyambut kehadiranmu di bumi yang terasa begitu pongah. Dunia kian tak beradab. Oleh manusia yang biadab. Kata-kata itu terasa kasar jika kau dengar, saat ini mungkin itu pilihan tepat untuk dilisankan. Aku cukup tahu kau lahir dalam tanpa noda. Seperti secarik kertas kosong tanpa guratan. Agama menyebut kelahiran adalah suci. Bebas dari dosa. Kini kau belum kenal agama, tak tahu siapa dirimu, kau hanyalah mahkluk kecil di hamparan sabana. Sejak dalam pundi-pundi kau diam durja menanti saat dimana kau akan melihat dunia yang begitu pesona penuh dengan manusia asing yang tak kau kenali. Jauh berbeda dengan alam rahimmu yang sempit dibaluti oleh daging seseorang yang kelak kau namai dia Ibu. Iya, Ibu. Mutiara manakala gelap menghinggapimu. Kelahiranmu mengingat kita saat-saat dilahirkan. Mungkin waktu manusia lahir orang-orang juga berkata sepertiku menyebutmu. “Pangeran telah lahir”. Sama halnya era para nabi, kelahiran mereka dielukan semua orang, konon kehadiran mereka membawa spirit kebajikan. Yang akan menyelamatkan manusia dari kenestapaan. Kelahiranmu cukup aku yang menyebutmu. Karena kita hanyalah kepingan yang terasing. Kelak meski kau tidak seperti nabi, setidaknya mimpi itu pernah tertancap di halaman rumah. Meskipun hanya sekedar anjing penjaga, namun kau punya taring untuk keluarga. Karena yang besar terlahir dari narasi kecil. Walau aku tak menyumbangkan nama sebutanmu dengan rasa bangga aku berikan kau gelar “pangeran” yang akan merintis orang-orangmu dari kubangan lumpur kotor. Aku tak berharap kau mengenali siapa aku. Aku melihatmu begitu kecil. Harapan tertanam dalam jiwamu yang masih kosong. Juga permohonanku untukmu. Kelahiranmu tak sekedar kebanggaan, jauh dari itu kau adalah penyambung kata yang kian pupus. Dan mampu mendaur ulang  suasana romansa di tengah kesunyian. Kau yang mungil telah menciptakan senyum simpul dalam getirnya perjuangan. Apa yang diimpikan tak selama nyata. Justru impian itu selalu membuat mereka bertahan walau perih adanya. Aku menemuimu setiap detak jarum jam. Lewat oksigen yang kau hirup. Melalui angin yang mengibas rambutmu nun lunak. Kerap aku dengar nadamu yang rintih, kadang kau merasa gatal digigit nyamuk, ingin ku halau, tapi jemari ini belum dapat menyentuhmu. Kau adalah “ponaan” bagiku. Entah darimana bahasa itu lahir. Aku juga tak banyak tahu. Para leluhur telah membuat banyak pertanyaan yang tak sanggup dijawab. Itulah hidup ini pangeran. Kini kau sudah menjadi familisme bagiku. Hidup memang penuh misteri. Sudah sekian lama misteri itu tak kunjung usai. Tapi tak menemukan apa sesunngguhnya hidup ini. Tapi kita tak perlu berlarut dalam hal yang tak mampu diserap. Karena pada satu titik semuanya bermula dari ketiadaan. Tapi terlalu cepat aku membawamu ke sana. Bagiku, itu penting, hanyasanya belum saatnya untuk kau pahami. Hadirnya dirimu jadi angin segar. Untuk kami hirup. Aku menaruh secuil harapan nanti kau jadi bintang dalam pekatnya malam. Yang  bersimbah cahaya. Meski tidak berkilau seperti gemintang lainnya, tapi kau tak pernah redup. Aku juga tak tahu kapan aku akan menemuimu. Karena kita terpisah oleh batas yang sulit ditembus. Kau adalah buah dari cinta dan kasih dari sepasang insan. Layaknya Adam dan Hawa. Karena mereka ditemukan dalam ruang dan waktu cukup lama. Benih yang mereka pupuk telah melahirkan pangeran yang tegap.
               





Tidak ada komentar: