Lunturnya subkultur aktivitas Mahasiswa, Kampus semakin terlihat lengang. Bak rumah ditinggal oleh penghuninya. Barang kali itulah kata yang tepat untuk dilisankan. Segala kronologis yang menghiasi peristiwa seputar lingkungan APMD sudah jarang ditemui. Semacam diskusi publik, seminar, debat dan lain sebagainya. Baik yang diselenggarakan oleh Akademik atau pun sekretariat internal itu sendiri. Kadang-kadang tanpa disadari luput dari penglihatan. Tidak seperti masa-masa sebelumnya, dimana kreativitas Mahasiswa rentan untuk menampakkan wujudnya disetiap sudut ruang hampa. Di sela obrolan, selalu dihiasi dengan aroma pengetahuan. Terciptanya diskusi kecil, bahkan tidak jarang pihak kemahasiswaan mendapatkan ocehan-ocehan hangat yang diorasikan oleh aktivis-aktivis kampus, buah dari tanggapan mereka. Sebagai acuan reaktansi terhadap program seandainya dianggap merugikan Mahasiswa. Redupnya antusiasme aktor kampus menimbulkan kecemasan yang curam. Di paruh sistematisasi amburadul, kita mendambakan kembali asa itu untuk menampakkan wujud ke permukaan. Mendambakan kembali wajah simpatik yang akan membawa secercah angin segar. Di lubuk hatinya menjelma jiwa reaktif terhadap segala sesuatu yang muncul. Umpama sumber mata air bagi kehidupan. Kritis atas persoalan yang ada untuk menciptakan kehidupan Kampus yang dinamis. Fenomena itu telah sukar ditemukan. Hanya saja sekelumit pengalaman yang terdengar dari teman-teman alumni. Mahasiswa sekarang mulai enggan mengisi waktu senggang dengan banyak membaca. Kampus idealnya dijadikan sebagai wadah untuk menggali pengetahuan, justru terpancing oleh beringasnya keduniawian yang menawarkan ingar-bingar fantastis. Kilaunya ingar duniawi telah berhasil menunggangi mereka yang tidak piawai memaknai kejamnya kehidupan. Agent of change adalah sebutan yang persis bagi Mahasiswa, konon akan menjadi perintis jalan kebenaran. Akan tetapi julukan itu tidak berarti apa-apa manakala semua berdiam dan membiarkan persoalan sekeliling Kampus kian hari tambah pelik. Dan melahirkan normalisasi seakan-akan tanpa noda, lantaran sudah mentradisi. akhirnya menjadi momentum bagi elit Kampus untuk memenuhi ambisi individualitas masing-masing. Pernyataan ini menunjukkan respons Mahasiswa terhadap loyalitas Kampus mulai berkurang. Sebutan “Mahasiswa” hanya menjadi simbol. Makna apa yang tersembunyi di baliknya bukan lagi pencarian. Justru turut merayakan kematian makna penyembunyian itu sendiri. Apalagi warna-warni kekinian kian menampakkan eksistensinya di paruh budaya yang didatangkan oleh modernitas. Dunia berwajah ganda. Konon telah menjadi konsumsi sehari-hari. Akhirnya antusiasme berorganisasi lenyap ditelan zaman. Lantaran keduniawian telah menjadi darah daging yang sulit dihilangkan. Gaya hidup seperti ini akan tambah parah manakala sistematisasi kemahasiswaan dalam keadaan stagnan. Kekurangan Fasilitas yang memadai semakin mempersempit ruang kreativitas. Ditambah keefektifan lembaga dalam menggerak program Akademis terkesan inkonsisten. Dosen yang kerap absen tidak lagi menjadi keprihatinan bersama demi kelangsungan kelas yang kondusif, lebih-lebih menjadi tindakan yang spontanitas. Mendirikan pekarangan berlimpit kian menandakan kurangnya intensitas lembaga dalam menjalankan roda Akademik. Demi Keamanan melandasi argumen tak terbantahkan untuk menutupi kelalaian dalam pengambilan kebijakan. Mewujudkan perasaan aman sudah semestinya dilakukan. Tapi apakah dengan perkarangan berlapis keamanan dapat terlaksana? Sementara belakangan ini kampus menjadi momok yang menakutkan. Apakah kecemasan itu yang diharapkan? Toh, sebelumnya justru aman-aman saja. Keamanan adalah keseharusan yang tak terelakkan, untuk menjaga keselamatan civitas Kampus manapun tanpa terkecuali. Termasuk kompleks APMD itu sendiri. Sungguh pun demikian membangun karakter Mahasiswa jauh lebih unggul dibandingkan pembangunan pekarangan berlapis-lapis. Kalau dikatakan, bila pendanaan itu dimanfaatkan untuk keperluan Mahasiswa, terutama di segi pengetahuan, barangkali lebih bermanfaat. Benar apa yang dikatakan oleh Kant ‘’alam menghendaki agar manusia berkembang melampaui animalitasnya dan, melalui akalnya, menggapai kebahagiaan dan kesempurnaan”. Alam menganugerahi manusia bukan saja insting, tetapi juga akal budi dan kehendak bebas. Alam ingin agar manusia berkembang dalam akalnya, bukan dalam animalitasnya saja. Dengan artian, jika akal sudah didominasi oleh hawa nafsu, yang timbul bukan lagi kebajikan namun kebalikannya. Dalam menggerakkan program akademis, pengoptimalan akan sumber daya yang ada sangat diperlukan. Lebih-lebih ketika mengambil sebuah kebijakan. Dibutuhkan dialektis antar kemahasiswaan dan Mahasiswa, supaya tercapainya kesepakatan bersama. Dialektika menjadi pemicu terjalinnya komunikasi antara dosen dan Mahasiswa. Juga menjadi cekatan bagi Mahasiswa secara komprehensif, terutama dalam mengambil keputusan. Sikap apatisme pun tumbuh kembang dalam diri Mahasiswa, karena sudah dipengaruhi oleh sistem yang ada. Parahnya lagi, keterlibatannya saat proses transfer ilmu hanya sebatas pengisian daftar kehadiran untuk memenuhi hasrat angka kuantitatif, secara substansional miskin makna. Apalagi ketika proses produksi pengetahuan cenderung unilinear dengan satu arah. Apa yang disampaikan oleh seorang dosen sudah menjadi kebenaran mutlak, ahirnya Mahasiswa hanya menjadi bejana kosong dalam bahasanya Paulo Freire. Fenomena ini juga disinggung dalam bukunya Yashraf Amir Piliang. Di mana sistem pendidikan tinggi kontemporer lebih condong ke arah yang disebut dengan “pendidikan tinggi monologis,”yaitu proses pengetahuan satu arah, antara dosen yang dianggap pakar kepada mahasiswa yang tidak pakar. Di dalamnya tidak terjalinnya interaksi komunikatif timbal balik (dialogism). Tidak terbentuknya produksi pengetahuan, atau pengembangan pengetahuan, hanya ada pengalihan pengetahuan atau reproduksi pengetahuan. Akhirnya tidak lagi tercipta produksi wacana secara argumentatif, kritis, dan analitis.
11 Januari 2014
Kampus Mati Suri
Lunturnya subkultur aktivitas Mahasiswa, Kampus semakin terlihat lengang. Bak rumah ditinggal oleh penghuninya. Barang kali itulah kata yang tepat untuk dilisankan. Segala kronologis yang menghiasi peristiwa seputar lingkungan APMD sudah jarang ditemui. Semacam diskusi publik, seminar, debat dan lain sebagainya. Baik yang diselenggarakan oleh Akademik atau pun sekretariat internal itu sendiri. Kadang-kadang tanpa disadari luput dari penglihatan. Tidak seperti masa-masa sebelumnya, dimana kreativitas Mahasiswa rentan untuk menampakkan wujudnya disetiap sudut ruang hampa. Di sela obrolan, selalu dihiasi dengan aroma pengetahuan. Terciptanya diskusi kecil, bahkan tidak jarang pihak kemahasiswaan mendapatkan ocehan-ocehan hangat yang diorasikan oleh aktivis-aktivis kampus, buah dari tanggapan mereka. Sebagai acuan reaktansi terhadap program seandainya dianggap merugikan Mahasiswa. Redupnya antusiasme aktor kampus menimbulkan kecemasan yang curam. Di paruh sistematisasi amburadul, kita mendambakan kembali asa itu untuk menampakkan wujud ke permukaan. Mendambakan kembali wajah simpatik yang akan membawa secercah angin segar. Di lubuk hatinya menjelma jiwa reaktif terhadap segala sesuatu yang muncul. Umpama sumber mata air bagi kehidupan. Kritis atas persoalan yang ada untuk menciptakan kehidupan Kampus yang dinamis. Fenomena itu telah sukar ditemukan. Hanya saja sekelumit pengalaman yang terdengar dari teman-teman alumni. Mahasiswa sekarang mulai enggan mengisi waktu senggang dengan banyak membaca. Kampus idealnya dijadikan sebagai wadah untuk menggali pengetahuan, justru terpancing oleh beringasnya keduniawian yang menawarkan ingar-bingar fantastis. Kilaunya ingar duniawi telah berhasil menunggangi mereka yang tidak piawai memaknai kejamnya kehidupan. Agent of change adalah sebutan yang persis bagi Mahasiswa, konon akan menjadi perintis jalan kebenaran. Akan tetapi julukan itu tidak berarti apa-apa manakala semua berdiam dan membiarkan persoalan sekeliling Kampus kian hari tambah pelik. Dan melahirkan normalisasi seakan-akan tanpa noda, lantaran sudah mentradisi. akhirnya menjadi momentum bagi elit Kampus untuk memenuhi ambisi individualitas masing-masing. Pernyataan ini menunjukkan respons Mahasiswa terhadap loyalitas Kampus mulai berkurang. Sebutan “Mahasiswa” hanya menjadi simbol. Makna apa yang tersembunyi di baliknya bukan lagi pencarian. Justru turut merayakan kematian makna penyembunyian itu sendiri. Apalagi warna-warni kekinian kian menampakkan eksistensinya di paruh budaya yang didatangkan oleh modernitas. Dunia berwajah ganda. Konon telah menjadi konsumsi sehari-hari. Akhirnya antusiasme berorganisasi lenyap ditelan zaman. Lantaran keduniawian telah menjadi darah daging yang sulit dihilangkan. Gaya hidup seperti ini akan tambah parah manakala sistematisasi kemahasiswaan dalam keadaan stagnan. Kekurangan Fasilitas yang memadai semakin mempersempit ruang kreativitas. Ditambah keefektifan lembaga dalam menggerak program Akademis terkesan inkonsisten. Dosen yang kerap absen tidak lagi menjadi keprihatinan bersama demi kelangsungan kelas yang kondusif, lebih-lebih menjadi tindakan yang spontanitas. Mendirikan pekarangan berlimpit kian menandakan kurangnya intensitas lembaga dalam menjalankan roda Akademik. Demi Keamanan melandasi argumen tak terbantahkan untuk menutupi kelalaian dalam pengambilan kebijakan. Mewujudkan perasaan aman sudah semestinya dilakukan. Tapi apakah dengan perkarangan berlapis keamanan dapat terlaksana? Sementara belakangan ini kampus menjadi momok yang menakutkan. Apakah kecemasan itu yang diharapkan? Toh, sebelumnya justru aman-aman saja. Keamanan adalah keseharusan yang tak terelakkan, untuk menjaga keselamatan civitas Kampus manapun tanpa terkecuali. Termasuk kompleks APMD itu sendiri. Sungguh pun demikian membangun karakter Mahasiswa jauh lebih unggul dibandingkan pembangunan pekarangan berlapis-lapis. Kalau dikatakan, bila pendanaan itu dimanfaatkan untuk keperluan Mahasiswa, terutama di segi pengetahuan, barangkali lebih bermanfaat. Benar apa yang dikatakan oleh Kant ‘’alam menghendaki agar manusia berkembang melampaui animalitasnya dan, melalui akalnya, menggapai kebahagiaan dan kesempurnaan”. Alam menganugerahi manusia bukan saja insting, tetapi juga akal budi dan kehendak bebas. Alam ingin agar manusia berkembang dalam akalnya, bukan dalam animalitasnya saja. Dengan artian, jika akal sudah didominasi oleh hawa nafsu, yang timbul bukan lagi kebajikan namun kebalikannya. Dalam menggerakkan program akademis, pengoptimalan akan sumber daya yang ada sangat diperlukan. Lebih-lebih ketika mengambil sebuah kebijakan. Dibutuhkan dialektis antar kemahasiswaan dan Mahasiswa, supaya tercapainya kesepakatan bersama. Dialektika menjadi pemicu terjalinnya komunikasi antara dosen dan Mahasiswa. Juga menjadi cekatan bagi Mahasiswa secara komprehensif, terutama dalam mengambil keputusan. Sikap apatisme pun tumbuh kembang dalam diri Mahasiswa, karena sudah dipengaruhi oleh sistem yang ada. Parahnya lagi, keterlibatannya saat proses transfer ilmu hanya sebatas pengisian daftar kehadiran untuk memenuhi hasrat angka kuantitatif, secara substansional miskin makna. Apalagi ketika proses produksi pengetahuan cenderung unilinear dengan satu arah. Apa yang disampaikan oleh seorang dosen sudah menjadi kebenaran mutlak, ahirnya Mahasiswa hanya menjadi bejana kosong dalam bahasanya Paulo Freire. Fenomena ini juga disinggung dalam bukunya Yashraf Amir Piliang. Di mana sistem pendidikan tinggi kontemporer lebih condong ke arah yang disebut dengan “pendidikan tinggi monologis,”yaitu proses pengetahuan satu arah, antara dosen yang dianggap pakar kepada mahasiswa yang tidak pakar. Di dalamnya tidak terjalinnya interaksi komunikatif timbal balik (dialogism). Tidak terbentuknya produksi pengetahuan, atau pengembangan pengetahuan, hanya ada pengalihan pengetahuan atau reproduksi pengetahuan. Akhirnya tidak lagi tercipta produksi wacana secara argumentatif, kritis, dan analitis.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar